Sepotong roti lapis selai kacang mungkin terlihat sebagai camilan yang lezat dan praktis. Namun, bagi sebagian anak, makanan sesederhana ini justru bisa memicu reaksi alergi yang membahayakan jiwa.
Alergi makanan pada anak kini semakin sering kita temui. Di saat yang sama, angka persalinan melalui operasi caesar (CS) di seluruh dunia juga terus meningkat tajam—bahkan sudah melampaui batas ideal 10–15% yang disarankan oleh WHO.
Apakah kedua tren ini saling berhubungan?
Saat bayi lahir secara normal (pervaginam), ia mendapatkan hal berharga berupa bakteri baik dari jalan lahir ibunya. Bakteri baik ini akan berkumpul di usus bayi dan membentuk benteng pertahanan tubuh (sistem imun) sejak dini.
Satu studi menunjukkan bahwa bayi yang lahir secara vaginal memperoleh komunitas bakteri yang menyerupai mikrobiota vagina ibu mereka sendiri, yang didominasi oleh Lactobacillus, Prevotella, atau Sneathia spp., sedangkan bayi CS menampung komunitas bakteri yang serupa dengan yang ditemukan di permukaan kulit, yang didominasi oleh Staphylococcus, Corynebacterium, dan Propionibacterium spp.
Sedangkan bayi yang lahir melalui operasi caesar tidak melewati jalan lahir ibu. Alhasil, bakteri awal yang mampir ke usus si Kecil justru berasal dari kulit atau lingkungan rumah sakit. Studi mengungkapkan bahwa spesies bakteri paling melimpah pada bayi yang lahir secara vaginal adalah Acinetobacter sp., Bifidobacterium sp., dan Staphylococcus sp., tetapi mikrobiota kotoran (feses) bayi CS didominasi oleh Citrobacter sp., Escherichia coli, dan Clostridium difficile. Perbedaan jenis bakteri inilah yang dapat memengaruhi perkembangan sistem kekebalan tubuhnya, sehingga si Kecil menjadi lebih sensitif atau rentan alergi makanan.
Sebuah studi pada tahun 2021 mencoba mengamati hubungan ini lebih jauh. Peneliti menemukan bahwa perubahan bakteri usus akibat prosedur caesar memang berkaitan erat dengan tingkat keparahan alergi makanan. Namun, penelitian yang sama menunjukkan bahwa pemberian probiotik (bakteri baik) sejak lahir berpotensi membantu menyeimbangkan kembali struktur bakteri baik di dalam usus dan meringankan gejala serta melindungi si Kecil dari risiko alergi makanan.
Meski begitu, para ahli menekankan bahwa probiotik bukanlah obat. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan jenis strain, dosis, dan durasi probiotik yang paling pas untuk anak-anak. Pemberian probiotik terbukti lebih aman dan berpotensi meminimalkan dampak disbiosis (ketidakseimbangan bakteri usus). Sebelum memberikan suplementasi probiotik atau saat mencurigai si Kecil memiliki alergi makanan, selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Sumber:
- https://ipa-biotics.org/cesarean-section-food-allergy-a-role-for-probiotics/
Foto oleh Jonathan Borba: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-melahirkan-3279204/




