Mitos Seputar Pantang Makanan Pada Ibu Nifas

Saat menjalani masa kehamilam hingga persalinan, ibu pasti banyak sekali dihujani berbagai informasi. Entah informasi tersebut benar atau tidak. Namun banyak sekali informasi tidak benar yang sudah terlanjur beredar di masyarakat dan dipercaya hingga menjadi mitos.

Kapan masa nifas dimulai? Yakni sejak 1 jam setelah lahirnya bayi sampai dengan 6 minggu (42 hari). Periode ini disebut juga sebagai periode pascapartum, yakni periode yang dimulai sejak bayi lahir hingga organ-organ reproduksi kembali seperti semula.

Saat masa nifas, ibu memerlukan makanan bergizi, bermutu dan seimbang. Kebutuhan kalori ibu nifas untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti semula adalah sekitar 2.480 – 2.580 kalori dan protein 80 gr (Permenkes No. 28 tahun 2019). Kebutuhan ini digunakan untuk mengoptimalkan proses penyembuhan sehabis melahirkan dan juga untuk memproduksi air susu yang cukup.

Pantang makan makanan tertentu sering sekali dilakukan ibu nifas dan ibu menyusui. Hal ini karena mereka percaya jika melanggar pantangan tersebut akan merugikan ibu dan bayi. Padahal faktanya, mitos-mitos tersebut tidak berhubungan dan tidak ada pengaruhnya. Mitos tersebut malah banyak yang salah dan tidak memiliki alasan ilimiah.

Perilaku memantang makanan tersebut dipercaya dan diajarkan turun menurun dan cenderung ditaati. Kadang ibu yang menjalani pantangan itu pun tak terlalu paham dan tidak yakin alasan dari memantang makanan. Tak sedikit ibu nifas yang melakukan pantangan tersebut karena tradisi/budaya, pendidikan yang tidak memadai, kondisi ekonomi, hingga kesulitan akses pelayanan kesehatan.

Nah, bagi Anda yang  sedang menjalani kehamilan dan sebentar lagi akan melahirkan, sangat penting untuk tahu mitos dan fakta seputar memantang makanan yang kerap dilakukan oleh ibu nifas berikut ini.

Tidak boleh makan telur, ikan, dan ayam atau yang berbau amis-amis karena dapat menyebabkan gatal pada luka perineum dan ASI yang dikeluarkan berbau amis.

Pasti ibu nifas ngga asing ya dengan mitos ini!

Banyak masyarakat yang percaya bahwa bahan pangan sumber protein sebaiknya tidak dikonsumsi ibu nifas. Padahal faktanya adalah salah. Justru sebaliknya. Ibu nifas wajib mengonsumsi pangan sumber protein hewani juga nabati untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan. Menurut Pedoman Gizi Seimbang Tahun 2014, ibu menyusui membutuhkan 4 porsi protein hewani dan 3 porsi protein nabati setiap hari. Kebutuhan protein justru semakin meningkat saat masa nifas.

Fungsi protein adalah sebagai zat pembangun dan diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak atau mati. Tanpa protein, maka ibu nifas berisiko mengalami keterlambatan penyembuhan dan berpotensi mengalami infeksi pada luka jalan lahir.

Jika ibu memiliki alergi, maka cukup hindari konsumsi pangan pencetus alergi tersebut, dan ganti dengan jenis protein lain.

Tidak ada hubungan antara makanan yang dimakan ibu dengan bau amis pada air susu ibu (ASI). Aroma ASI cenderung berubah-ubah sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Kadang tidak berbau, berbau asam/amis/manis atau ada juga yang bilang mirip dengan bau sabun. Bau ASI seperti itu masih tergolong normal. Perubahan rasa dan aroma ASI juga bisa disebabkan karena efek samping penggunaan obat.

Tidak boleh makan yang berkuah dan tidak boleh banyak minum karena lukanya tidak akan cepat kering

Hal ini juga tidak benar ya Bu. Ibu nifas membutuhkan banyak cairan, terutama untuk mengganti cairan tubuh saat mengalami pendarahan, berkeringat, juga untuk produksi ASI. Jika kurang cairan, ibu berisiko dehidrasi dan produksi ASI sedikit. Minum air putih minimal 8 gelas sehari bisa juga diselingi dengan asupan susu dan jus buah. Jangan khawatir akan buang air kecil terus sehingga menyebabkan luka jalan lahir basah. Justru malah sebaliknya, semakin sering dibersihkan dengan sabun dan air lalu dikeringkan (setelah buang air kecil), maka luka akan segera sembuh.

Tidak boleh makan yang sayur dan buah-buah karena menyebabkan bayinya mencret/diare

Pernyataan ini juga salah ya Bu. Konsumsi sayur dan buah justru disarankan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran ibu nifas. Sayur dan buah mengandung vitamin, mineral serta serat yang dibutuhkan oleh ibu nifas untuk mengoptimalkan proses penyembuhan. Asupan serat yang cukup dapat membantu memperlancar proses pencernaan sehingga ibu nifas tidak mengalami sembelit. Konsumsi sayuran berdaun hijau juga baik untuk mengoptimalkan produksi ASI.

Ibu nifas disarankan untuk tidak pantang makanan, karena menurut beberapa penelitian, penyembuhan luka perineum akan terganggu jika ibu nifas melakukan pantang makanan. Ibu nifas akan kekurangan zat gizi sehingga penyembuhan luka akan lebih lama bahkan berisiko mengalami infeksi. Makanan bergizi sangat dibutuhkan untuk pemulihan kondisi kesehatan, mempercepat penyembuhan luka, memulihkan kondisi alat-alat reproduksi, hingga untuk menunjang proses laktasi.

Sumber:

Foto oleh Rene Asmussen: https://www.pexels.com/id-id/foto/tampilan-jarak-dekat-dari-tangan-yang-memegang-kaki-bayi-325690/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *