Mengolah Telur Bebek untuk MP-ASI

Telur kerap menjadi menu andalan para ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga. Selain praktis dan rasanya lezat, telur merupakan salah satu bahan makanan yang mudah diolah menjadi beragam hidangan. Ada beberapa jenis telur, dan umumnya telur ayam menjadi pilihan. Padahal ada jenis telur lain seperti telur puyuh dan telur bebek yang bisa diolah untuk menu favorit keluarga, termasuk untuk menu makanan pendamping ASI (MPAS) si kecil.

Telur bebek ukurannya memang lebih besar dibanding telur ayam. Warna cangkang telur bebek unik, yakni kebiruan. Telur bebek (dan telur pada umumnya) adalah sumber lemak dan protein yang sangat baik. Telur juga mengandung zat besi bahkan seng—kedua jenis zat gizi yang sangat dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang secara optimal. Pada bagian kuning telur terkandung hampir semua jenis vitamin (kecuali vitamin C). Telur bebek memiliki kandungan selenium serta vitamin B yang sangat melimpah, khususnya vitamin B12. Telur juga merupakan salah satu sumber kolesterol dan kolin —dua zat gizi penting untuk pembentukan tulang, perkembangan otak, dan pertumbuhan sel. Selain itu, telur adalah salah satu bahan pangan yang mengandung vitamin D, yang diperlukan tubuh untuk menyerap kalsium dan menunjang pertumbuhan tulang.

Meskipun kaya gizi, ibu perlu memperhatikan beberapa hal saat mengolah dan menyajikan telur bebek untuk menu MPASI si kecil.

  1. Pastikan matang sempurna. Hindari menyajikan telur bebek dalam kondisi setengah matang untuk mencegah risiko kontaminasi bakteri Salmonella. Ciri telur matang sempurna adalah tidak ada bagian telur yang encer (runny).
  1. Olah bersama bumbu aromatik. Untuk mengatasi aroma amis pada telur bebek, ibu bisa mengolahnya dengan menambahkan bumbu aromatic seperti daun bawang, daun jeruk juga bawang merah dan bawang putih,
  2. Perhatikan reaksi alergi. Sajikan atau berikan telur bebek dalam porsi kecil dan pantau reaksinya selama 24-48 jam untuk memastikan tidak ada reaksi alergi seperti ruam, gatal, hingga muntah-muntah dan sesak.
  3. Bervariasi. Sajikan telur bebek dengan bahan pangan laiinya seperti sayur, protein nabati, dan buah, jangan lupa sesuaikan porsi dengan usia si kecil.

Bagaimana cara menyajikan telur bebek

Setiap bayi berkembang sesuai ritme mereka sendiri, dan ibu bisa menyesuaikan dengan kemampuan makan bayi.

Usia 6 hingga 12 bulan:

Buat telur dadar (pastikan bagian dalam telur matang sempurna dan tidak encer/setengah matang), lalu potong menjadi strip persegi panjang agar bayi bisa memegang dengan genggaman tangannya. Untuk mendorongnya makan sendiri, berikan strip telur tersebut langsung ke tangannya. Setelah kemampuan pincer grasp bayi berkembang (saat jempol dan telunjuknya mulai bisa menjepit), lanjutkan ke tahap berikutnya.

Usia 12 hingga 18 bulan:

Lanjutkan dengan potongan telur dadar berbentuk strip persegi panjang sampai kemampuan pincer grasp bayi terbentuk, lalu Anda bisa memotong strip tersebut menjadi potongan segi empat kecil berukuran sekali gigit. Saat ini Ibu juga bisa mengenalkan telur rebus matang yang diris atau dipotong -potong (dipotong empat bagian atau diiris tipis dengan alat pemotong telur).

Usia 18 hingga 24 bulan:

Pada usia ini, Ibu mungkin tidak perlu lagi bingung memikirkan cara menyajikan telur karena si kecil sudah sangat mahir memakannya!

Perlu diingat ya Bu, wajar jika bayi yang tadinya suka telur saat berusia 6 bulan tiba-tiba berhenti makan telur setelah ulang tahun pertamanya. Hal ini karena meningkatnya kepekaan mereka terhadap aroma telur. Jika ini terjadi, jangan khawatir dan cobalah menyajikan telur dalam bentuk yang menarik, seperti menggunakan cetakan kue, cetakan mufin, atau kreasi tampilan seru lainnya.

Sumber:

Foto oleh ge yonk: https://www.pexels.com/id-id/foto/tujuh-telur-putih-896341/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *