Anak Montok Enggak Boleh Asal Diet! Ini Saran Ahli

Anak yang tampak gemuk dan montok memang sering dianggap lucu, bahkan menjadi simbol anak sehat. Namun, bagaimana jika bayi atau balita di bawah usia 2 tahun menunjukkan berat badan berlebih menurut grafik pertumbuhan? Bolehkah mereka menjalani diet?

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan ibu muda dan calon ibu yang mulai memahami pentingnya menjaga kesehatan dan gizi si kecil. Jawabannya adalah: anak di bawah 2 tahun tidak disarankan untuk menjalani diet dalam arti pembatasan kalori secara ketat, kecuali ada indikasi medis khusus dan atas pengawasan dokter.

Kenapa Tidak Boleh Asal Diet?

Pada usia 0–2 tahun, otak dan tubuh anak berkembang sangat cepat. Menurut World Health Organization (WHO), periode ini dikenal sebagai window of opportunity atau jendela emas pertumbuhan. Pembatasan makanan secara berlebihan bisa menghambat tumbuh kembang fisik dan kognitif, serta berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi penting seperti zat besi, zinc, vitamin A, dan lemak esensial.

American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan bahwa bayi yang kelebihan berat badan tidak boleh dibatasi makannya secara ekstrem, karena kebutuhan energinya sangat tinggi untuk tumbuh. Namun, bukan berarti orang tua pasif terhadap risiko obesitas. Intervensi tetap diperlukan—yang fokus bukan pada diet ketat, tapi pada pola makan sehat dan aktivitas fisik yang sesuai usia.

Kapan Berat Badan Dikatakan Berlebih?

Berat badan bayi dikatakan berlebihan jika melampaui persentil ke-97 pada grafik pertumbuhan WHO. Namun, angka ini harus ditafsirkan dengan cermat bersama tenaga kesehatan. Banyak faktor bisa memengaruhi berat badan, termasuk genetik, pola makan, dan aktivitas fisik. Maka dari itu, penting untuk berkonsultasi secara rutin dengan dokter anak atau ahli gizi.

Rekomendasi Aman untuk Anak di Bawah 2 Tahun

Berikut beberapa pendekatan yang disarankan oleh para ahli gizi anak untuk membantu anak dengan berat badan berlebih tetap sehat:

  1. Berikan ASI eksklusif hingga 6 bulan, lalu lanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih, sambil dikenalkan MPASI yang seimbang.
  2. Hindari pemberian makanan tinggi gula dan garam, seperti biskuit manis, minuman kemasan, dan makanan cepat saji.
  3. Kenalkan makanan alami dan segar, seperti buah potong, sayur rebus, dan protein hewani rendah lemak.
  4. Batasi jus buah—meski alami, jus tinggi gula dan rendah serat.
  5. Hindari penggunaan makanan sebagai alat untuk menenangkan atau memberi hadiah.
  6. Tingkatkan aktivitas fisik, meski hanya berupa permainan aktif di lantai atau taman. Anak sebaiknya tidak terlalu sering duduk di kursi bayi atau menonton layar.

Kunci menjaga berat badan balita adalah mengenalkan pola makan sehat sejak dini, bukan membatasi makannya secara drastis. Diet ketat bukan solusi untuk bayi atau balita yang berat badannya berlebih. Alih-alih membatasi makan, ibu perlu membentuk kebiasaan makan sehat, aktif bergerak, dan rutin berkonsultasi dengan dokter. Pendekatan lembut dan penuh cinta inilah yang akan menjaga si kecil tumbuh sehat dan ceria.

Daftar Pustaka:

  1. World Health Organization. (2020). Infant and young child feeding guidelines.
  2. American Academy of Pediatrics. (2019). Obesity Prevention in Infancy and Early Childhood.
  3. Gunawan, I. (2022). Panduan Gizi Seimbang untuk Balita. Jakarta: EGC.
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2021). Healthy Weight for Children.

Photo by Photo By: Kaboompics.com: https://www.pexels.com/photo/baby-legs-next-to-toy-building-blocks-4964358/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *