Membesarkan anak memang penuh tantangan. Saat lelah, stres, atau kehilangan kesabaran, tidak sedikit orang tua yang akhirnya meluapkan emosi dengan membentak anak. Meskipun terkesan sepele dan sering dianggap sebagai bagian dari “mendidik”, ternyata membentak anak secara terus-menerus dapat menimbulkan dampak psikologis dan biologis yang serius. Penelitian dan pendapat para ahli menunjukkan bahwa membentak bukanlah cara efektif untuk mendisiplinkan anak, justru sebaliknya—itu bisa melukai secara permanen.
Efek Psikologis: Luka Tak Kasat Mata
Menurut Dr. Laura Markham, seorang psikolog klinis anak dan pendiri Aha! Parenting, membentak anak menimbulkan rasa takut dan tidak aman. Anak-anak yang sering dibentak cenderung memiliki harga diri rendah, mengalami kecemasan, bahkan depresi. Penelitian yang diterbitkan di Child Development Journal (2014) menemukan bahwa anak-anak yang sering dibentak memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku, termasuk agresivitas, kenakalan, dan penurunan prestasi akademik.
Bentakan yang keras juga dapat merusak hubungan emosional antara anak dan orang tua. Padahal, kedekatan emosional ini sangat penting untuk mendukung perkembangan otak dan karakter anak. Ketika anak merasa tidak dicintai atau diterima, mereka bisa menjadi lebih tertutup atau, sebaliknya, memberontak.
Dampak Biologis: Otak Anak Bisa Terdampak
Dari sisi ilmu saraf, bentakan termasuk bentuk kekerasan verbal yang dapat memengaruhi perkembangan otak anak. Dalam usia dini, otak anak masih berkembang sangat cepat. Suara keras dan kata-kata penuh emosi negatif dapat mengaktifkan sistem stres (hipotalamus-pituitari-adrenal) dan melepaskan hormon kortisol secara berlebihan. Jika ini terjadi terus-menerus, struktur otak yang terkait dengan emosi dan pembelajaran, seperti amigdala dan hippocampus, bisa terganggu.
Penelitian dari Harvard University dan University of Pittsburgh menyatakan bahwa kekerasan verbal—termasuk bentakan—dapat menyebabkan perubahan fisik pada bagian otak anak yang bertanggung jawab atas pemrosesan suara dan bahasa. Ini bisa menyebabkan kesulitan dalam memahami dan mengekspresikan perasaan, serta masalah konsentrasi di kemudian hari.
Lingkaran Kekerasan yang Tak Diinginkan
Anak-anak belajar dari lingkungan terdekatnya. Jika mereka tumbuh dalam suasana penuh bentakan, besar kemungkinan mereka juga akan meniru pola komunikasi tersebut saat dewasa. Hal ini bisa menciptakan siklus kekerasan verbal antar generasi.
Solusi: Kendalikan Emosi, Bangun Komunikasi Positif
Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu sempurna, tapi belajar untuk lebih sadar dan sabar adalah kunci. Alih-alih membentak, cobalah berbicara dengan nada tenang namun tegas, beri pelukan saat anak melakukan kesalahan, atau tarik napas dalam-dalam sebelum merespons perilaku mereka.
Membangun komunikasi yang positif, penuh kasih sayang, dan menghargai perasaan anak adalah fondasi penting bagi kesehatan mental dan tumbuh kembang optimal mereka.
Ingatlah bahwa suara kita bisa menjadi rumah yang aman atau menjadi luka yang membekas dalam ingatan anak. Bentakan mungkin menyelesaikan masalah sesaat, tapi efek jangka panjangnya bisa sangat merugikan.
Daftar Pustaka:
- Markham, L. (2012). Peaceful Parent, Happy Kids. Perigee.
- Wang, M-T., & Kenny, S. (2014). Longitudinal links between harsh verbal discipline and adolescent conduct problems and depressive symptoms. Child Development, 85(3), 908–923.
- Teicher, M. H., Samson, J. A., Anderson, C. M., & Ohashi, K. (2016). The effects of childhood maltreatment on brain structure, function and connectivity. Nature Reviews Neuroscience, 17, 652–666.
- Harvard University Center on the Developing Child. (2012). Toxic Stress Derails Healthy Development. [https://developingchild.harvard.edu]
Photo by Liza Summer: https://www.pexels.com/photo/angry-black-woman-screaming-in-room-6382710/





