Makan Telur Ngga Boleh Setiap Hari? Yuk, Bongkar Mitos Telur!

Telur adalah salah satu sumber protein hewani terbaik yang mudah didapat, murah, dan bergizi tinggi. Namun, di balik keunggulannya, masih banyak mitos seputar konsumsi telur pada anak yang beredar di masyarakat. Tak jarang, mitos ini membuat orang tua—terutama ibu muda—ragu memberi telur kepada anak secara rutin.

Padahal, menurut para ahli gizi dan penelitian ilmiah, sebagian besar mitos ini tidak berdasar dan justru bisa menghambat pemenuhan gizi anak secara optimal.

Mitos: Anak Tidak Boleh Makan Telur Setiap Hari

Fakta:

Telur boleh dikonsumsi setiap hari selama anak tidak memiliki alergi. Dalam satu butir telur terdapat sekitar 6–7 gram protein berkualitas tinggi, serta vitamin A, D, B12, dan zat besi. Menurut WHO dan Kementerian Kesehatan RI, protein hewani, termasuk telur, sangat penting untuk mencegah stunting pada anak usia di bawah dua tahun.

Penelitian dari American Journal of Clinical Nutrition (2015) juga menunjukkan bahwa konsumsi satu telur per hari tidak meningkatkan risiko kolesterol tinggi pada anak sehat.

Mitos: Telur Hanya Boleh Diberikan Kuningnya Saja

Fakta:

Kuning dan putih telur sama-sama penting. Kuning telur mengandung lemak sehat dan vitamin A, sedangkan putih telur tinggi protein. IDAI menegaskan bahwa sejak usia 6 bulan, bayi sudah bisa diberi telur utuh, bukan hanya kuningnya, asalkan tidak alergi. Menunda pemberian putih telur tidak terbukti mencegah alergi.

Mitos: Telur Bikin Anak Cepat Bosan

Fakta:

Kreativitas dalam mengolah telur adalah kunci. Telur bisa dimasak dalam banyak variasi: orak-arik, direbus, dibuat omelet dengan sayuran, atau dicampur ke dalam sup dan nasi tim. Anak tidak akan bosan jika disajikan dengan cara yang menarik dan bervariasi.

Mitos: Makan telur bisa

Faktanya: Tidak.

Menurut ahli gizi, tidak ada bukti ilmiah bahwa telur dapat menyebabkan bisul. Telur adalah sumber protein hewani berkualitas tinggi yang justru dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan tubuh dan mendukung sistem imun. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Nutrition (2018) menyatakan bahwa tidak ada korelasi langsung antara konsumsi telur dan peningkatan risiko infeksi kulit seperti bisul.

✅ Kesimpulan: Telur Aman dan Penting!

Mitos tentang telur yang menyesatkan harus segera dikoreksi. Telur adalah makanan super untuk anak—kaya nutrisi, murah, mudah dimasak, dan lezat. Jangan ragu menjadikan telur sebagai bagian dari makanan harian anak, selama tidak ada alergi.

Dengan memberikan telur secara rutin, orang tua ikut berkontribusi dalam pencegahan stunting dan peningkatan kecerdasan anak.

Daftar Pustaka:

  • WHO. (2021). Feeding Guidelines for Infants and Young Children.
  • IDAI. (2020). Pemberian Telur pada MPASI: Rekomendasi IDAI.
  • Iannotti, L. L., et al. (2017). “Eggs in Early Complementary Feeding and Child Growth.” American Journal of Clinical Nutrition, 106(6), 1487–1493.
  • Hardinsyah. (2022). Ilmu Gizi untuk Anak Usia Dini. IPB Press.

Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/brown-eggs-on-brown-wooden-bowl-on-beige-knit-textile-162712/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *