Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), pada acara Pediatric Science & Health Summit 2026 di bali awal Agustus lalu menekankan pentingnya diagnosis yang tepat dan dini dalam penanganan Alergi Protein Susu Sapi (ASS). Keterlambatan diagnosis yang masih kerap terjadi dapat memperpanjang proses penanganan dan berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak.
Selama ini penggunaan formula partially hydrolyzed (pHF) untuk penanganan alergi protein susu sapi masih dilakukan dalam praktik klinis. Padahal dari berbagai panduan internasional, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pHF ini tidak direkomendasikan untuk anak yang sudah mengalami alergi susu sapi, namun masih bisa dapat digunakan untuk pencegahan alergi susu sapi serta masalah saluran cerna lainnya yang tidak disebabkan oleh susu sapi.
Lebih lanjut menurut Prof. Zakiudin, pemilihan kebutuhan zat gizi perlu mengikuti panduan berbasis bukti. “Pilihan pertama dalam penanganan anak dengan kondisi alergi susu sapi ringan dan sedang adalah extensively hydrolyzed formula (eHF), karena lebih dari 90% ditoleransi oleh pasien yang mengalami alergi susu sapi. Berbagai studi juga menunjukkan bahwa eHF berbasis whey lebih mudah dicerna, memiliki penerimaan rasa yang lebih baik, serta mampu membantu perbaikan gejala dalam waktu 10–12 minggu. Pada kasus alergi berat atau alergi protein susu sapi yang parah, penggunaan AAF (Amino Acid-Based Formula atau formula asam amino) diperlukan untuk membantu mengurangi gejala secara cepat, dan salah satu studi menunjukkan perbaikan gejala sejak hari ketiga”. Formula isolat protein soya dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pada kasus alergi ringan hingga sedang, dengan mempertimbangkan keterjangkauan, rasa, serta bukti ilmiah yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Foto oleh Engin Akyurt: https://www.pexels.com/id-id/foto/sarapan-makan-pagi-lezat-produk-susu-4324359/




