Mikroplastik Ada di Air Ketuban Ibu Hamil

Penelitian terbaru mengenai mikroplastik kembali menjadi perhatian serius, terutama bagi para orang tua dan ibu hamil. Studi yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Gresik menemukan bahwa mikroplastik tidak hanya terdapat pada pekerja pemilah sampah, tetapi juga terdeteksi dalam darah, urine, hingga air ketuban ibu hamil. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik sudah sangat luas dan dapat menjangkau kelompok yang rentan, termasuk janin.

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama melibatkan pekerja pemilah sampah di TPA Ngitik, Wringinanom, dan Bawean. Sementara tahap kedua berfokus pada ibu hamil yang menjalani pemeriksaan di puskesmas dan rumah sakit di Gresik, dengan kolaborasi bersama Wonjin Institute for Occupational and Environmental Health untuk analisis darah dan urine. Dari sekitar 48 sampel air ketuban yang diteliti, seluruhnya dinyatakan positif mengandung mikroplastik. Selain itu, mikroplastik juga ditemukan dalam urine dengan jumlah partikel yang bervariasi.

Tidak hanya itu, mikroplastik yang ditemukan juga membawa berbagai zat berbahaya. Di antaranya adalah phthalates yang banyak terdapat pada plastik sekali pakai, serta senyawa kimia seperti styrene, naphthalene, dan pyrene. Bahkan, partikel ini juga dapat membawa logam berat seperti kadmium, timbal, krom, dan nikel yang dapat menambah risiko kesehatan jika terakumulasi dalam tubuh.

Secara ilmiah, paparan mikroplastik dikaitkan dengan stres oksidatif dan peradangan. Kondisi ini dapat mengganggu metabolisme tubuh, termasuk keseimbangan hormon. Plastik yang bersifat estrogenik berpotensi meningkatkan risiko gangguan hormon seperti Polycystic Ovary Syndrome. Selain itu, paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi.

Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara, makanan, minuman, maupun kontak dengan kulit. Setelah masuk, partikel ini dapat menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ, bahkan hingga otak. Dalam kehidupan sehari-hari, paparan juga bisa berasal dari lingkungan, seperti air hujan, tanaman, hingga rantai makanan laut.

Bagi orang tua, temuan ini menjadi pengingat penting untuk lebih waspada. Meski dampak jangka panjang pada bayi masih memerlukan penelitian lanjutan, langkah pencegahan tetap bisa dilakukan. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih produk tanpa microbeads, serta mengonsumsi makanan tinggi serat dan antioksidan dapat membantu mengurangi dampak paparan.

Kesadaran sejak dini menjadi kunci untuk melindungi kesehatan keluarga. Dengan gaya hidup yang lebih bijak, risiko paparan mikroplastik dapat ditekan, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak yang lebih rentan terhadap dampaknya.

Sumber: https://unair.ac.id/dosen-unair-ungkap-bahaya-mikroplastik-dalam-air-ketuban-darah-dan-urine-manusia/?utm_source=chatgpt.com

photo: hearth.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *