Sebuah studi dari Universitas Essex di Inggris menemukan bahwa anak perempuan yang dibesarkan oleh ibu dengan ekspektasi tinggi (yang sering dianggap cerewet), lebih mungkin berhasil secara akademis, mendapatkan gaji yang lebih tinggi saat ia bekerja, dan terhindar dari kehamilan remaja. Menurut Reader’s Digest, studi tersebut melacak lebih dari 15.000 anak perempuan berusia 13 dan 14 tahun selama enam tahun.
Para peneliti menemukan bahwa ketika orang tua, biasanya sang ibu, secara konsisten mengomunikasikan ekspektasi yang kuat, anak perempuan lebih cenderung memenuhi standar tersebut, meskipun mereka tampak memberontak. Dr. Ericka Rascon-Ramirez, yang memimpin studi tersebut, menjelaskan bahwa pengaruh orang tua seringkali berlangsung secara halus, membentuk keputusan yang akhirnya diyakini remaja bahwa keputusan tersebut datang dari mereka sendiri.
Selain itu, omelan atau bisa kita dikatakan juga sebagai bimbingan yang Ibu berikan secara konsisten, akan mengingatkan anak perempuan untuk terus, atau menghindari perilaku berisiko. Dan hal itu mungkin terasa menjengkelkan bagi anak pada saat itu. Namun nyatanya, hal itu secara tak langsung membangun disiplin internal dan harga diri. Bahkan anak perempuan yang membanting pintu atau memutar bola mata kemungkinan besar menyerap nilai-nilai ibu mereka lebih baik.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa mengomel tidak sama dengan mengatur atau mengkritik yang menjatuhkan. Sebagaimana disampaikan oleh neuropsikolog Dr. Sanam Hafeez, pengasuhan yang efektif melibatkan penetapan tujuan dan nilai-nilai yang jelas, bukan umpan balik negatif yang terus-menerus. Kuncinya adalah kegigihan yang membangun, bukan hanya tekanan yang malah membuat di anak tertekan.
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/2-women-smiling-near-black-textile-35024/





