Enggak sedikit orang tua yang melarang anaknya belepotan saat makan. Alasannya banyak, namun yang paling sering adalah repot membersihkannya. Tapi faktanya, membiarkan anak bayi atau balita berantakan atau belepotan saat makan ada manfaatnya.
Jadi… siapkan celemek favorit, dan yuk baca alasannya!
1) Sensory Play (stimulasi indera)
Bayi belajar mengenali dunia melalui semua inderanya. Kadang bayi memasukkan apa saja ke mulut. Mainan seperti pasir, playdough, benda kecil — berisiko kotor atau tidak higienis. Sesi eksplorasi ini bisa ibu kenalkan saat makan. Saat makan, sensasi rasa, aroma, tekstur, warna bisa dieksplorasi dengan aman. Makin banyak indera yang terlibat, makin bagus untuk perkembangan otaknya.
2) Melatih Skill Makan
Proses anak belajar makan sendiri memang lama dan berikan waktu yang cukup untuk anak bisa belajar dan mandiri untuk melakukannya.
- usia 18–24 bulan: biasanya sudah mulai bisa makan sendiri tapi masih perlu dibantu
- usia 24–36 bulan: umumnya sudah bisa lebih mandiri makan sendiri
Anak semakin mahir jika sering latihan, walaupun itu berarti akan terjadi hal tak terduga. Berantakan, ciprat sana sini, belepotan, dan mungkin mungkin lebih banyak makanan yang terbuang daripada yang masuk ke mulut. Berikan bantuan saat diperlukan, tapi tetap beri ruang untuk mandiri.
3) Melatih Oral Motor (keterampilan mulut)
Kalau setiap suapan langsung kita lap, anak tidak punya kesempatan merasakan sisa makanan di bibir, dan lidah juga tidak bekerja untuk menjilatnya. Kalau setiap sendokan juga kita “kerok” bersih ke langit-langit mulut mereka, anak tidak belajar memakai bibir untuk menarik makanan dari sendok. Padahal ini adalah momen penting melatih kekuatan otot mulut, koordinasi, dan jangkauan gerak. Jadi sebaiknya lap mulut anak di akhir makan setelah proses makan benar-benar selesai. Saat menyuapi, masukkan sendok lurus dan biarkan anak memakai bibir untuk menarik dan membersihkan sendiri makanan yang di sendoknya.
4) Cegah “Tactile Defensive” (sensitif sentuhan berlebihan)
Ada anak-anak yang sensitif terhadap tekstur tertentu. Kalau tiap ada noda langsung kita lap, otak bisa mengasosiasikan “berantakan = tidak nyaman / harus dibersihkan cepat-cepat”. Ajak anak mengenal tekstur: lembek, lengket, basah, renyah — itu semua normal. Lama-lama mereka lebih toleran terhadap berbagai sensasi.
5) Membuat Suasana Makan Lebih Positif
Untuk anak yang cenderung picky, waktu makan bisa bikin cemas. Kalau tiap suap disusul lap, gosok, bersihin — suasana makan jadi tegang. Usahakan suasana rileks dan menyenangkan. Urus sisa berantakan setelah selesai makan saja.
Keamanan tetap nomor satu, Kalau belepotannya sampai mengganggu penglihatan atau pernapasan, bersihkan segera. Selain itu, jangan takut mulai membiarkan si kecil “becek-becek” saat makan. Karena berantakan adalah belajar, berantakan juga bisa menjadi stimulasi, dan berantakan bagian dari tumbuh kembang.
Photo by Shohei Ohara: https://www.pexels.com/photo/close-up-photography-of-a-girl-eating-bread-2800533/





