Dokter spesialis anak dari Universitas Indonesia dr. Tiara Nien Paramita M.Sc Sp.A dalam acara diskusi tentang alergi susu sapi di Jakarta (20/10/2025) mengatakan alergi yang terjadi pada anak bisa semakin parah jika orang tua terlalu panik dan cemas sehingga bisa berdampak pada tumbuh kembang anak dikemudian hari.
“Anak dengan alergi makanan biasanya banyak makanan yang dipantang, jadi terbatas jenis makanannya. Orang tua juga ada rasa takut mau ngasih makanan ke anaknya, takut ada reaksi alergi, jadi psikologis orang tua ikut terganggu juga. Sementara anak butuh makanan beragam untuk tumbuh kembangnya,” kata Tiara. Jika hal ini berlangsung terus-menerus maka tumbuh kembang anak terganggu, dalam jangka panjang berat dan tinggi badannya terhambat malah berisiko stunting. badannya terhambat dan bisa berujung stunting.
Seringkali, orangtua tidak menyadari bahwa gejala awal alergi susu sapi bisa sangat mirip dengan penyakit anak umum lainnya. Menurut dr. Tiara berikut ini tanda-tanda yang harus diperhatikan orangtua:
1. Gejala di Kulit
- Ruam mendadak dan gatal setelah mengonsumsi susu sapi atau produk turunannya (keju, biskuit, yogurt, dan lain-lain).
- Eksim atau Dermatitis Atopi yang muncul di usia 2-3 bulan, berupa kulit kering, kemerahan, dan bersisik yang sulit sembuh.
2. Gejala Pencernaan
- Keluhan BAB yang tidak normal, seperti diare kronis, sembelit, atau bahkan BAB berdarah.
- Muntah atau anak tampak lebih rewel tanpa sebab yang jelas, terutama setelah minum susu sapi.
Perlu ibu ketahui, ada dua tipe alergi, yakni reaksi cepat (IgE-Mediated) dan reaksi lamat (Non- IgE-Mediated). Reaksi cepat terjadi dalam hitungan menit hingga maksimal 2 jam setelah konsumsi. Tipe ini dapat dideteksi melalui tes alergi di laboratorium. Sedangkan reaksi lambat gejalanya muncul perlahan berjam-jam hingga berhari-hari kemudian. Tipe ini diagnosisnya lebih sulit dan memerlukan obeservasi ketat (tes eliminasi dan provokasi) oleh dokter.
Konsekuensi Jika Alergi Tidak Ditangani dengan Baik
Alergi susu sapi yang tidak terdiagnosis dan tertangani dengan baik, tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup anak dan keluarga.
1. Risiko Gangguan Tumbuh Kembang
Anak dengan alergi susu sapi berisiko mengalami gangguan penyerapan nutrisi penting. Hal ini dapat menyebabkan berat badan sulit naik (gagal tumbuh) dan bahkan berisiko stunting.
2. Progresi Alergi (Allergic March)
Alergi yang tidak diatasi di awal kehidupan, dapat berlanjut menjadi penyakit alergi lain seiring bertambahnya usia, seperti asma (batuk-batuk kronis, terutama malam hari) dan rinitis alergi (sering pilek/bersin-bersin).
3. Dampak Emosional dan Ekonomi
Penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan anak alergi susu sapi sering mengalami kecemasan (ansietas) tinggi, yang dapat memengaruhi kualitas parenting. Selain itu, gejala alergi yang kambuh-kambuhan (relaps) akan memicu biaya pengobatan ekstra yang lebih besar bagi keluarga. Diagnosis yang cepat dan tepat terbukti lebih hemat biaya dalam jangka panjang.
Ajakan untuk SADAR Alergi
Mengingat kompleksitas gejalanya, orangtua dan dokter diajak untuk SADAR alergi (Screening Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi).
1. Screening Awal: Deteksi dan Konsultasi
Kunci utamanya adalah kepekaan orangtua terhadap “sinyal kecil” gejala alergi. Jika mencurigai adanya reaksi setelah konsumsi susu sapi, langkah yang harus dilakukan adalah segera konsultasi dengan dokter anak.
Langkah Diagnosis Awal:
Eliminasi: Hentikan konsumsi susu sapi dan produk turunannya selama 1-4 minggu.
Provokasi: Setelah gejala hilang, cobakan kembali susu/produk susu sapi di bawah pengawasan dokter. Jika gejala muncul kembali, maka besar kemungkinan anak positif alergi susu sapi.
Jangan pernah mencoba diagnosis dan penanganan mandiri. dr. Tiara menekankan, “Setiap anak memiliki kondisi alergi yang berbeda. Konsultasi dengan dokter anak adalah langkah penting agar diagnosis dan penanganan dapat diberikan secara tepat.”
2. Asupan Rekomendasi Alergi: Zat Gizi Tepat
Anak dengan alergi susu sapi tetap membutuhkan zat gizi lengkap dan seimbang untuk tumbuh kembang optimal. Disinilah peran dokter anak sangat penting untuk:
- Menentukan jenis makanan dan susu/formula pengganti yang tepat dan aman.
- Memastikan anak tetap mendapatkan nutrisi yang optimal untuk menghindari risiko growth faltering (gangguan pertumbuhan).
Photo by Alex Green: https://www.pexels.com/photo/asian-girl-with-milk-on-lips-5692269/





