Kekerasan di Daycare, Bisa Rusak Kepercayaan dan Rasa Aman Anak

Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di daycare kembali menjadi perhatian publik dan memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua muda. Tempat penitipan anak yang seharusnya menjadi ruang aman justru bisa berubah menjadi sumber trauma jika tidak dikelola asal saja. Para ahli menegaskan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh orang tua—terutama ibu—yang sering kali dihantui rasa bersalah.

Dari perspektif psikologi perkembangan, usia dini merupakan fase krusial dalam membangun rasa aman dan kepercayaan. Anak belajar mengenali dunia melalui hubungan dengan pengasuhnya. Ketika pengasuh justru menjadi sumber ancaman, anak dapat mengalami kebingungan emosional dan kehilangan rasa percaya terhadap lingkungan sekitar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu kecemasan, ketakutan berlebihan, bahkan gangguan emosi.

Masalahnya, anak usia balita umumnya belum mampu mengungkapkan apa yang mereka alami secara verbal. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi lebih rewel, murung, sulit tidur, sering mimpi buruk, hingga mengalami regresi seperti kembali mengompol. Anak juga bisa menunjukkan ketakutan saat akan ditinggal atau tiba-tiba menolak pergi ke daycare.

Situasi ini sering kali memicu rasa bersalah pada orang tua, terutama ibu yang bekerja. Namun penting untuk dipahami, menitipkan anak di daycare bukanlah kesalahan. Itu adalah pilihan yang rasional, terutama jika dilakukan pada lembaga yang legal dan berizin. Orang tua perlu memvalidasi perasaan mereka sendiri dan tidak terjebak dalam stigma sosial. Rasa bersalah yang berlebihan justru dapat memengaruhi hubungan dengan anak dan menghambat proses pemulihan.

Jika anak menunjukkan tanda-tanda trauma, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengembalikan rasa aman di rumah. Kehadiran orang tua yang tenang, rutinitas yang konsisten, serta waktu berkualitas bersama anak menjadi kunci utama. Orang tua juga disarankan untuk lebih responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Bila diperlukan, bantuan profesional seperti terapi bermain (play therapy) dapat membantu anak memproses pengalaman traumatisnya.

Di sisi lain, perlindungan anak tidak bisa hanya bergantung pada orang tua. Lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang aman. Pengawasan dari masyarakat, komunikasi terbuka, serta keberanian melaporkan kejanggalan dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif.

Bagi orang tua yang sedang mempertimbangkan daycare, penting untuk membangun kepercayaan berbasis verifikasi. Lakukan observasi langsung, pastikan legalitas lembaga, cek kualitas pengasuh, serta tanyakan sistem pengawasan yang diterapkan. Transparansi seperti laporan harian dan akses pemantauan menjadi nilai tambah yang penting.

Sumber:

Photo by Tri Warno: https://www.pexels.com/photo/adorable-toddler-walking-outdoors-in-pink-dress-32985962/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *