Makanan Pendamping ASI (MPASI) adalah tahapan penting dalam tumbuh kembang bayi. Namun, banyak mitos yang beredar di masyarakat dan sering kali menyesatkan para orang tua muda. Keputusan yang salah bisa berdampak pada tumbuh kembang anak, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan yang sangat menentukan kesehatan jangka panjang.
Menurut WHO dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), MPASI sebaiknya diberikan mulai usia 6 bulan, karena pada usia ini kebutuhan gizi bayi sudah tidak dapat dipenuhi hanya dari ASI. Namun, banyak mitos beredar yang bertentangan dengan saran medis. Mari kita bahas beberapa mitos yang paling umum.
Mitos 1: Bayi Harus Diberi Makanan Padat Sebelum 6 Bulan Agar Cepat Gemuk
Faktanya:
Memberikan MPASI sebelum 6 bulan dapat berisiko, karena sistem pencernaan bayi belum berkembang sempurna. Studi dari American Academy of Pediatrics (2012) menunjukkan bahwa pemberian MPASI terlalu dini dapat meningkatkan risiko alergi makanan, obesitas, bahkan infeksi saluran cerna. Dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K), dari IDAI, menegaskan bahwa “Bayi yang tampak sering lapar bukan berarti harus diberi makanan padat. Tanda lapar bisa juga karena peningkatan kebutuhan ASI atau fase pertumbuhan cepat.”
Mitos 2: Bubur Saring Adalah Satu-satunya Makanan MPASI Awal
Faktanya:
Sebenarnya, tekstur MPASI harus bertahap meningkat sesuai usia dan kemampuan makan bayi.
Mulai dari makanan lumat (usia 6–8 bulan), cincang kasar (usia 9–11 bulan), hingga makanan keluarga yang dipotong kecil (12 bulan ke atas). Konsistensi yang sesuai membantu bayi belajar mengunyah, menelan, dan mencegah gangguan makan di kemudian hari. Menurut WHO (2021), bayi seharusnya belajar mengunyah sejak dini untuk mencegah keterlambatan makan dan menghindari kebiasaan makan pilih-pilih di kemudian hari.
Mitos 3: Rasa Gurih dan Manis Akan Membuat Bayi Lahap
Faktanya:
Menambahkan gula dan garam pada makanan bayi sebelum usia 1 tahun sangat tidak disarankan. Ginjal bayi belum mampu menyaring natrium dalam jumlah besar. Selain itu, kebiasaan makan makanan manis atau asin sejak dini bisa membentuk preferensi rasa yang kurang sehat. WHO dan IDAI sama-sama menyarankan tanpa tambahan gula dan garam hingga bayi berusia 1 tahun.
Mitos 4: Hanya Buah yang Cocok untuk MPASI Awal
Faktanya:
Buah memang sehat, tapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat besi. MPASI seimbang perlu mengandung karbohidrat, protein hewani, lemak, serta vitamin dan mineral. WHO sangat menekankan pentingnya protein hewani (seperti hati ayam, telur, ikan) untuk mencegah stunting.
Menjadi orang tua berarti harus kritis terhadap informasi. MPASI bukan hanya soal mengenyangkan bayi, tapi juga tentang memberikan asupan gizi yang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat jenis. Kenali mitos yang menyesatkan dan pahami faktanya. Konsultasikan dengan dokter anak atau ahli gizi bila ragu.
Referensi:
- World Health Organization. (2021). Complementary Feeding: Report of the Global Consultation.
- IDAI. (2020). Rekomendasi MPASI oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia.
- American Academy of Pediatrics. (2012). “Feeding and Nutrition: Your Baby’s First Solid Foods.”
- Dewey, K.G. (2013). “Nutrition, growth, and complementary feeding of the breastfed infant.” Pediatric Clinics of North America, 60(1), 91-111.
- Brown, K.H., et al. (2010). “Complementary feeding: A review of current scientific knowledge.” WHO/UNICEF.
Photo by Enrique from Pexels: https://www.pexels.com/photo/black-and-white-portrait-of-baby-making-mess-while-eating-11787679/





