Kandungan dalam ASI yang Buat Bayi Lebih Kebal Penyakit

Air susu ibu (ASI) merupakan sumber zat gizi terbaik bagi bayi sejak lahir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Selain menyediakan zat gizi yang lengkap, ASI juga memiliki kandungan bioaktif yang berperan penting dalam membangun sistem kekebalan tubuh bayi. Inilah yang membuat bayi yang diberi ASI cenderung lebih terlindungi dari berbagai infeksi dan penyakit.

1. Kolostrum: “vaksin pertama” untuk bayi

ASI yang keluar pertama kali setelah melahirkan, disebut kolostrum, berwarna kekuningan dan lebih kental dibanding ASI matang. Kolostrum kaya akan imunoglobulin A (IgA), protein antibodi yang melapisi saluran cerna bayi sehingga kuman, virus, dan alergen tidak mudah menempel. Menurut penelitian di Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition (2019), pemberian kolostrum mampu menurunkan risiko diare dan infeksi saluran napas pada bayi baru lahir.

2. Imunoglobulin dan antibodi

ASI mengandung berbagai jenis imunoglobulin, terutama IgA sekretori, serta dalam jumlah lebih kecil IgG dan IgM. Imunoglobulin ini berfungsi melawan patogen penyebab penyakit, seperti bakteri E. coli, Salmonella, maupun virus influenza. IgA bekerja dengan cara membentuk “perisai” di mukosa usus dan pernapasan, sehingga bayi lebih tahan terhadap infeksi.

3. Laktoferin

Laktoferin adalah protein yang berperan mengikat zat besi. Dengan mekanisme ini, laktoferin menghambat pertumbuhan bakteri jahat yang membutuhkan zat besi untuk berkembang. Studi dalam Nutrients (2020) menunjukkan bahwa laktoferin dalam ASI tidak hanya bersifat antimikroba, tetapi juga memiliki fungsi imunomodulator, yakni membantu sistem imun bayi mengenali mana zat asing berbahaya dan mana yang aman.

4. Oligosakarida (Human Milk Oligosaccharides/HMOs)

HMOs adalah jenis karbohidrat kompleks yang unik hanya terdapat dalam ASI. Zat ini tidak dicerna langsung oleh bayi, melainkan menjadi “makanan” bagi bakteri baik (probiotik) di usus, terutama Bifidobacteria. Dengan terciptanya flora usus yang sehat, bayi lebih kebal terhadap diare, alergi, dan infeksi saluran pernapasan. Penelitian dari Frontiers in Pediatrics (2021) menyebutkan bahwa bayi yang mendapat ASI kaya HMO memiliki risiko lebih rendah terkena nekrotizing enterocolitis (NEC), penyakit usus berbahaya pada bayi prematur.

5. Sel imun dan sitokin

Selain antibodi, ASI juga mengandung sel imun seperti makrofag, limfosit, dan neutrofil. Sel-sel ini berfungsi melawan infeksi secara langsung dengan cara menghancurkan mikroba. Ditambah lagi, ASI mengandung sitokin dan faktor pertumbuhan yang membantu pematangan sistem imun bayi.

6. Asam Lemak dan Nukleotida

Asam lemak rantai panjang dalam ASI, seperti DHA dan ARA, bukan hanya penting untuk perkembangan otak, tetapi juga memiliki efek anti-inflamasi. Sementara itu, nukleotida yang terdapat dalam ASI berperan memperkuat respon imun terhadap infeksi virus maupun bakteri.

ASI bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga obat alami yang membentuk fondasi sistem kekebalan tubuh bayi. Kandungan antibodi, laktoferin, oligosakarida, sel imun, dan zat bioaktif lain bekerja sinergis untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit. Tidak heran jika bayi yang mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah terkena diare, infeksi saluran pernapasan, bahkan alergi.

Bagi para calon ibu dan ibu muda, memberikan ASI adalah investasi kesehatan terbaik untuk buah hati, sekaligus memberikan ikatan emosional yang kuat antara ibu dan anak.

Daftar Pustaka

  1. Ballard, O., & Morrow, A. L. (2013). Human milk composition: nutrients and bioactive factors. Pediatric Clinics of North America, 60(1), 49–74.
  2. Andreas, N. J., Kampmann, B., & Mehring Le-Doare, K. (2015). Human breast milk: A review on its composition and bioactivity. Early Human Development, 91(11), 629–635.
  3. Le Doare, K., Holder, B., Bassett, A., & Pannaraj, P. S. (2018). Mother’s milk: A purposeful contribution to the development of the infant microbiota and immunity. Frontiers in Immunology, 9, 361.
  4. Ochoa, T. J., & Cleary, T. G. (2019). Effect of lactoferrin on enteric pathogens. Biochimie, 160, 89–96.
  5. Bode, L. (2021). Human milk oligosaccharides in the prevention of necrotizing enterocolitis: A journey from in vitro and animal studies to human clinical trials. Frontiers in Pediatrics, 9, 630.

Photo by Alina Matveycheva: https://www.pexels.com/photo/grayscale-photo-of-a-mother-breastfeeding-her-child-12169643/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *