Gula dan Garam: Bolehkah Diberikan Sebelum usia Anak 1 Tahun?

Saat bayi mulai mengenal makanan padat atau MPASI (Makanan Pendamping ASI), banyak ibu yang bertanya-tanya: bolehkah menambahkan gula dan garam agar makanan bayi lebih lezat? Pertanyaan ini sering memicu perdebatan di antara orang tua, tenaga kesehatan, bahkan keluarga besar.

Mengapa Gula dan Garam Dilarang untuk Bayi di Bawah 12 Bulan?

Menurut anjuran dari World Health Organization (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi di bawah 12 bulan sebaiknya tidak diberikan tambahan gula dan garam dalam makanannya. Hal ini bukan tanpa alasan.

  1. Ginjal bayi belum matang
    Ginjal bayi belum mampu menyaring zat natrium (komponen utama garam) secara optimal. Asupan garam berlebih dapat membebani ginjal dan berisiko menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit.
  2. Rasa manis dan asin membentuk kebiasaan makan
    Menurut penelitian oleh Mennella & Beauchamp (1998), bayi yang terbiasa diberi makanan manis atau asin cenderung memiliki preferensi terhadap makanan tersebut di masa kanak-kanak dan dewasa. Hal ini bisa meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, dan diabetes di kemudian hari.
  3. Risiko tersembunyi dalam makanan alami
    Faktanya, makanan alami seperti daging, telur, sayur, dan buah sudah mengandung natrium dan gula alami. Misalnya, ASI saja sudah mengandung laktosa (gula alami) yang cukup untuk kebutuhan bayi.

Bukankah Garam Penting?

Benar. Garam mengandung natrium dan yodium yang penting untuk fungsi tubuh. Namun, kebutuhan natrium bayi sangat kecil, yakni sekitar 120–200 mg/hari, yang sebenarnya sudah tercukupi dari makanan alami tanpa tambahan garam.

Sama halnya dengan gula. Gula memang sumber energi, tapi bayi sudah mendapatkan energi utama dari karbohidrat kompleks dalam nasi, kentang, ubi, atau buah. Gula tambahan hanya memberikan kalori kosong yang bisa menyebabkan kelebihan berat badan.

Efek Jangka Panjang Jika Diberikan Terlalu Dini

  • Risiko hipertensi anak meningkat (Yang et al., 2015)
  • Gangguan metabolisme dan kelebihan berat badan
  • Pola makan picky eater karena hanya mau makanan manis atau asin
  • Kerusakan gigi dini (early childhood caries) akibat konsumsi gula

Alih-alih membeirkan gula dan garam, maka saat MPASI, ibu bisa melakukan hal ini:

  • Gunakan rempah alami seperti daun salam, bawang putih, atau kayu manis sebagai penambah rasa.
  • Perkenalkan rasa alami makanan. Biarkan bayi mengenal rasa asli wortel, ayam, atau labu.
  • Tambahkan bahan kaya yodium alami, seperti ikan laut atau telur (secara bertahap dan sesuai usia).
  • Bila ingin makanan terasa gurih, tambahkan santan, kaldu ayam rumahan, atau unsalted butter.

Memberikan gula dan garam pada bayi di bawah 12 bulan sebaiknya dihindari. Bukan karena jahat, tetapi karena tubuh bayi belum siap menerimanya, dan dampaknya bisa terasa di masa depan. Biarkan bayi mengenal rasa makanan yang alami dulu—karena itu juga bagian dari pembelajaran rasa dan kesehatan seumur hidup.

Daftar Pustaka

  1. WHO. (2020). Infant and Young Child Feeding Guidelines
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2022). Pemberian MPASI
  3. Mennella JA, Beauchamp GK. (1998). Developmental changes in the acceptance of protein hydrolysate formula. Pediatrics.
  4. Yang Q. et al. (2015). Added Sugar Intake and Cardiovascular Diseases Mortality among US Adults. JAMA Intern Med.
  5. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), Kemenkes RI.

Photo by Yan Krukau: https://www.pexels.com/photo/photo-of-baby-eating-on-a-chair-4669020/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *