Atur Asupan Bagi Penderita Autis

Autisme merupakan momok yang sangat menakutkan bagi para orang tua. Hingga saat ini, belum ada fakta ilmiah yang mampu menjelaskan timbulnya gangguan tersebut secara terperinci. Autis adalah kelainan yang terjadi pada anak berupa perkembangan syaraf tidak normal sehingga mengganggu interaksi sosial, komunikasi, dan tingkah laku. Penderitanya cenderung memiliki sifat memberontak serta melakukan tindakan mengulang dan terbatas.

Prof. F.G. Winarno (2011) dalam artikelnya di FOODREVIEW mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kasus ini adalah makanan. Sebab penderita autis sangat sensitif terhadap beberapa komponen pangan, diantaranya adalah
*Enzim pencernaan penderita autisme terbatas. Senyawa yang tercerna parsial dapat menyebabkan kebocoran lapisan saluran pencernaan dan menyebabkan gangguan stimulus sel syaraf. Oleh sebab itu, berikan makanan yang mudah dicerna dan tidak memberikan beban yang terlalu berat, diantaranya protein bermutu tinggi, cukup serat, dan indeks glikemiks rendah.
*Hindari konsumsi senyawa yang menyerupai opiate -memiliki sifat seperti morfin. Protein seperti gluten dan kasein, bila tidak tercerna sempurna, dapat menghasilkan senyawa-senyawa mirip opiate tersebut. Di dalam Air Susu Ibu (ASI) sebenarnya juga mengandung kasein. Namun, ternyata susunan asam amino kasein dalam ASI berbeda dengan kasein yang terdapat pada jenis susu lainnya. Justru sebaliknya ASI merupakan salah satu pencegah terjadinya autisme yang paling utama.

Pengobatan untuk penderita autis
Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan (2011) merekomendasikan beberapa langkah dalam penanganan penderita autis, yakni:

  1. Jika terdapat gejala, periksakan anak untuk penilaian lebih lanjut
  2. Setiap anak membutuhkan penanganan yang berbeda, pilih dan gunakan cara penanganan yang sesuai dengan kondisi anak.
  3. Mintalah bantuan tenaga kesehatan untuk menentukan cara penanganan yang tepat
  4. Lakukan penanganan tingkah laku dan kecerdasan usia dini secara terus-menerus, terutama untuk meningkatkan kemandirian dan kemampuan interaksi sosial, keterampilan, serta mengurangi gangguan tingkah laku.
  5. Berikan obat sesuai anjuran dokter.
  6. Jangan menunda pengobatan, karena dapat berpengaruh pada perkembangan selanjutnya.

Bagaimanapun sulitnya menangani penderita autis, namun bukan tidak mungkin untuk menyembuhkannya. Kasih sayang orang tua sangat penting untuk merangsang dan mempercepat proses tersebut. Berikanlah perhatian yang cukup untuk mendukung perkembangan kemampuan interaksi dan komunikasinya. LF

Foto oleh Karolina Grabowska: https://www.pexels.com/id-id/foto/makanan-piring-salad-menu-4210814/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *